Taqobbal Yaa Karim ...

Bila ada langkah yang membekas lara ...
Ada kata merangkai dusta ...
Ada tingkah menoreh luka ...
Meski diri tak dapat berjumpa & jabat tangan yang sampai ...
Selamat Idul Fitri 1430 H
Mohon Maaf Lahir Batin
oleh : Pudji Lestari
JAKARTA (Bisnis): PT Kokoh Inti Arebama Tbk dijadwalkan masuk bursa pada 9 April setelah mendapat pernyataan efektif dari Bapepem-LK Depkeu kemarin. Perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi bahan bangunan ini menawarkan sebanyak 250 juta saham bernilai nominal Rp100 yang ditawarkan kepada masyarakat Rp170 per saham. Perseroan akan meraup dana Rp42,5 miliar dari hasil IPO.
Perseroan juga menerbitkan 150 juta waran seri 1 yang diberikan secara cuma-cuma kepada pemegang saham. Satu saham akan mendapat bonus tiga waran seri 1 di mana setiap waran dapat ditukarkan menjadi satu saham baru.
Tokoh Inti dibantu oleh penjamin emisi PT Makinta Securities berencana untuk menggunakan dana hasil IPO sebagai modal ekspansi. Sebanyak 45% dari dana itu akan dipakai untuk menambah kantor cabang. Sebanyak 30% untuk memasuki sektor ritel berupa pembukaan jaringan supermarket bahan bangunan di mana jenis produk yang dijual akan lebih banyak daripada saat ini.
Untuk membangun jaringan supermarket, perseroan berencana membuka jaringan supermarket sendiri dan atau melalui akuisisi jaringan supermarket bahan bangunan yang telah beroperasi. Sebanyak 25% dana hasil IPO akan digunakan untuk menambah modal kerja bagi pengembangan produk baru. (tw)
oleh : Pudji Lestari
oleh : Hilman Hidayat & Hery Trianto
Tahun lalu bank yang melantai di Bursa Efek Jakarta bertambah dua emiten, yakni PT Bank Capital Tbk dan PT Bank Ekonomi Rahardja Tbk plus PT Bank Negara Indonesia Tbk yang melaksanakan penawaran saham kedua. Tidak lama lagi dua bank akan menyusul.
Kedua bank tersebut adalah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional dan PT Bank Jabar Banten. Tidak saja keduanya secara kebetulan sama-sama berpusat di Bandung, namun penawaran saham ke publik adalah rencana lama yang sempat tertunda.
Bagi para investor, jelas kehadiran para calon emiten perbankan tersebut layak masuk dalam radar investasi mereka. Hanya saja, seberapa besar sebenarnya peluang IPO tersebut memberikan peluang investasi?
Untuk BTPN, proses penawaran malah telah berlangsung dan dikabarkan memperoleh respons yang cukup menggembirakan dari investor. Dengan penawaran harga Rp2.700-Rp2.950, saham BTPN menurut Dirut PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) Mohammad Syahrial mengalami kelebihan permintaan.
Praktis peluang untuk turut mengoleksi saham BTPN di pasar perdana hampir tertutup menyusul penawaran yang mendekati akhir. Tinggal kini yang ditunggu, sejauh mana penawaran saham Bank Jabar Banten bisa menarik para investor.
Bila rencana IPO sesuai rencana, maka Bank Jabar Banten akan mencatatkan sejarah sebagai bank pembangunan daerah pertama yang melantai di pasar modal. Rencananya, go public Bank Jabar Banten bakal direalisasikan semester pertama tahun ini.
Sejumlah persiapan administrasi dan pendaftaran ke Bapepam sudah hampir tuntas semuanya. Maklum Bank Jabar banten telah mendengungkan rencana menjadi perusahaan publik sejak 2006.
Proses melantai di bursa yang memakan waktu, bisa dimaklumi, sebab begitu banyak hal yang harus dipersiapkan. Seperti kita tahu BPD ini merupakan calon emiten unik dengan jumlah pemilik saham relatif banyak, yaitu 33 pemerintahan yang terdiri dari dua provinsi, 11 pemerintah kota, 20 pemerintah kabupaten. Proses sosialisasi dan edukasi pada stakeholder pun memakan waktu.
| Kinerja keuangan Bank Jabar Banten (Rp triliun, laba Rp miliar) | |||
| . | 2006 | 2007 | Pertumbuhan (%) |
| Aset | 21,29 | 23,12 | 8,6 |
| Dana | 15,54 | 16,48 | 6,06 |
| Kredit | 11,75 | 13,02 | 10,77 |
| Ekuitas | 1,85 | 2,23 | 20,58 |
| Laba bersih | 301 | 376 | 34,91 |
Bisa dibayangkan betapa berbelitnya proses persetujuan go public mengingat pemerintah daerah juga mesti berkonsultasi dengan DPRD masing-masing. Disatu sisi struktur pemegang saham yang cukup kompleks ini memang bisa menghambat pergerakan bisnis, tetapi juga menciptakan peluang bisnis yang cukup langka.
Betapa tidak? Bank Jabar Banten -juga BPD lain di Indonesia-memiliki pasar yang sangat captive yakni pemerintah daerah maupun para pegawainya. Sejauh ini, bank swasta ataupun bank BUMN masih kesulitan menembus pasar yang digarap BPD.
Bank Jabar Jateng, selain memiliki nasabah utama pemerintah daerah, juga mengelola dana PT Jasa Marga untuk bisnis jalan tol di wilayah Jawa Barat dan Banten. Bagaimanapun ini merupakan poin tersendiri bagi bank yang berpusat di Bandung tersebut
Motivasi melantainya Bank Jabar Banten di pasar modal, seperti diungkapkan Direktur Utama Bank Jabar Banten Agus Ruswendi, adalah untuk meraup modal segar. Mencari dana segar di bursa lebih reliable daripada menunggu setoran dari pemegang saham dengan dana terbatas.
"PT Bank Jabar-Banten akan melepaskan 20% sahamnya ke pasar dengan target masuk dana segar sebesar Rp720 miliar," katanya.
Agus mengatakan dana segar sebesar itu merupakan hasil kali dari jumlah saham dilepas sebesar 20%, dikali modal inti Rp2 triliun serta dikali nilai buku 1,8 kali. "Kalau melihat IPO bank-bank pemerintah dengan memakai nilai buku 1,4 kali hingga 1,6 kali, penetapan 1,8 kali nilai buku oleh Bank Jabar Banten, sudah termasuk baik."
Suhirman, Sekretaris Perusahaan Bank Jabar Banten, mengatakan secara keseluruhan persiapan bank ini masuk bursa sudah hampir tuntas, kemungkinan manajemen masih melihat situasi pasar. "Inginnya sesegera mungkin kami masuk bursa, tetapi beberapa pertimbangan akibat gejolak pasar, kemungkinan dilihat dulu."
Kinerja keuangan
Dalam laporan RUPS tahun buku 2007 disebutkan kinerja Bank Jabar Banten seperti disampaikan oleh kantor akuntan publik Price Waterhouse Coopers (PWC) menyatakan pendapat wajar tanpa pengecualian atas kinerja bank ini.
Hingga Desember 2007 tercatat aset Bank Jabar Banten mengalami kenaikan sebesar 8,61% dari tahun sebelumnya menjadi Rp23,1 triliun.
Penghimpunan dana pihak ketiga bank ini juga mengalami peningkatan sebesar 6,08% atau Rp944,5 miliar dari Rp15,5 triliun menjadi Rp16,5 triliun.
Penyaluran kredit Bank Jabar Banten pada 2007 masih didominasi oleh kredit konsumtif mencapai Rp11,54 triliun ( 82,23%) sedangkan kredit produktifnya hanya Rp2,49 triliun (17,77%).
Hingga akhir tahun 2007 Bank Jabar Banten telah membukukan laba kotor naik 11,61 % dari laba tahun lalu dari Rp502,34 miliar jadi Rp560,67 miliar.
Manajemen Bank Jabar Banten memproyeksikan peningkatan kredit ke sektor produktif akan terus tumbuh, bahkan komposisi kredit dalam beberapa tahun ke depan sudah bisa 35% untuk kredit produktif dan 65% konsumtif.
Tentu dengan kondisi seperti ini para investor bisa menilai, apakah saham Bank Jabar Banten nati layak dikoleksi? Untuk tahun hasilnya, mari kita tunggu sampai bank itu benar-benar memperdagangkan saham di pasar modal. (hilman.hidayat@bisnis.co.id/hery.trianto@bisnis.co.id)
Senin, 11/02/2008 17:47 WIB
oleh : Djony Edward
JAKARTA (Antara): Bank Tabungan Negara (BTN) lebih memilih memperkuat struktur permodalan dengan jalan menerbitkan saham (Initial Public Offering, IPO) sampai 30% dari dua opsi yang ditawarkan.
"Usulan untuk IPO 30% diselenggarakan paling cepat akhir bulan ketiga tahun 2008," kata Direktur Utama BTN Iqbal Latanro di Jakarta, Senin, usai jamuan resepsi dalam rangka HUT ke-58 BTN.
Menurut Iqbal, usulan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Negara BUMN selaku pemegang saham. Awalnya untuk memperkuat struktur modal BTN ditawarkan tiga opsi IPO, akuisisi, serta merger. Namun, opsi merger gugur tinggal IPO atau akuisisi.
Mengenai kedua opsi ini, Iqbal mengatakan masih menunggu keputusan evaluasi tim restrukturisasi BUMN yang saat ini masih membahas hal tersebut.
Iqbal mengatakan, dengan perkuatan struktur permodalan diharapkan menjadi bekal bagi BTN untuk melaksanakan ekspansi kredit yang lebih murah ke depannya. Melalui perbaikan struktur modal maka cost of fund (biaya dana) akan lebih ringan.
Akan tetapi kalau melihat keinginan pemangku kepentingan (stakeholder) di bidang perumahan seperti masyarakat yang selama ini difasilitasi kreditnya dari BTN, kalangan pengembang yang tergabung dalam organisasi profesi REI dan Apersi, termasuk Kementerian Negara Perumahan Rakyat lebih memilih untuk IPO sebagai opsi perkuatan struktur modal.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria secara tegas menolak rencana IPO tersebut. Dia justru mempertanyakan atas dasar apa pemerintah mengajukan opsi kedua (akuisisi).
Fuad mengatakan, pemerintah dalam rangka memfasilitasi kebutuhan masyarakat akan rumah seharusnya memiliki bank yang fokus di bidang ini. "Kalau selama ini sudah ada BTN kenapa kemudian diutak-atik," tuturnya.
Perkuatan modal metodanya sangat banyak, kata Fuad, kenapa harus memilih jalan akuisisi padahal banyak konsep yang ditawarkan apabila IPO memang tidak dapat dilaksanakan, masih ada cara dengan menjalin mitra strategis (strategic partner).
"Mitranya berasal dari institusi keuangan bukan bank yang selama ini sangat berkepentingan di sektor perumahan seperti misalnya Jamsostek, Bapertarum - PNS, maupun YKPP- TNI," ujarnya.
Pemerintah harusnya mempertimbangkan dampak buruk apabila langkah akuisisi sampai diambil. "Kalau terjadi gonjang-ganjing di sektor perumahan bisa saja subsidi kredit untuk rumah kemudian ditutup," ujarnya.
Apalagi melalui IPO tersebut modal BTN yang semula Rp2,8 triliun tahun 2007 (belum diaudit) dapat ditingkatkan menjadi lebih dari Rp4 triliun, akan memberikan keleluasaan BTN dalam menyalurkan kredit di sektor perumahan.
Fuad juga mengingatkan, BTN tidak bisa didorong keras menyalurkan kredit karena pemerintah juga harus melihat kenyataan dana subsidi untuk rumah sangat terbatas. Seperti tahun 2007 anggaran subsidi yang tersedia Rp300 miliar sudah habis sehingga BTN harus menalangi lebih dari Rp100 miliar.
Bahkan sumber yang sangat dekat dengan BTN mengatakan pihak-pihak yang menginginkan opsi di luar IPO akan berhadapan dengan DPR-RI, bahkan Komisi V DPR-RI telah merancang untuk memanggil Meneg BUMN.
Bahkan Presiden dan Wakil Presiden akan berkunjung ke Menpera pada Februari 2008 untuk rapat koordinasi, salah satunya membahas soal ini.
Tim restrukturisasi BUMN seharusnya belajar pengalaman dari pendahulu sebelumnya yang tergusur karena hal tersebut, kata sumber tersebut.
www.bisnis.com